Selamat Datang Di Website Resmi Akademi Keperawatan Luwuk Banggai. Jln. S. Batui No. 3 , Telp. 0461-2248 E-mail : admin@akperluwuk.ac.id

Perkuliahan

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini7
mod_vvisit_counterKemarin10
mod_vvisit_counterPekan Ini7
mod_vvisit_counterPekan Lalu51
mod_vvisit_counterBulan Ini28
mod_vvisit_counterBulan Lalu216
mod_vvisit_counterKeseluruhan3090

Online (20 menit lalu): 6
IP Anda: 38.107.191.111
,
Hari Ini: 04 September, 2010
Dari Arena Baksos Akper Luwuk di Tohitisari Kecamatan Toili
Laporan : Gafar Tokalang ; Toili
SINAR matahari terasa menusuk tajam di kulit. Sekitar pukul 13.00, Minggu (14/9/2008) akhir pekan lalu, setelah menemui sejumlah warga yang sakit di Dusun III Desa Tohitisari, Kecamatan Toili, saya yang saat itu ikut tim mahasiswa Akper Luwuk, sempat bertandang ke rumah Ngasiran. Pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, yang hidup lebih dari satu abad.
Memang agak sulit untuk dipercaya dengan akal sehat. Namun, begitulah pengakuan warga sekitar serta anak cucunya yang ditemui. Ngasiran masuk di wilayah Toili bersama sejumlah warga lainnya, melalui program transmigrasi pada tahun 1977. Warga setempat yang ikut bersama tim Akper saat itu, sempat memberikan informasi kalau didusun tersebut terdapat orang tua yang lanjut usia, namun masih bisa bekerja. Dengan sederet rasa penasaran, kami lalu mendatangi rumahnya.
 
Manusia yang hidup dalam kurun waktu yang cukup lama, memang bukanlah hal yang luar biasa. Hanya saja, karena sangat jarang terdengar dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari, maka Pak Ran, begitu sapaan akrabnya, menjadi manusia unik yang ada di wilayah itu. Usianya sudah 140 tahun, atau dengan kata lain, ia lahir ke dunia ini sejak 140 tahun yang lalu, jauh sebelum Bangsa Indonesia merdeka. Sayangnya, anak cucunya tidak tahu persis tanggal berapa kakek mereka itu lahir. Yang jelas, kata mereka, usianya sudah 140 tahun.
 
Sementara Ngasiran sendiri sudah tidak bisa lagi berbagi pengalaman, ia sudah tidak dapat mendengar. Telinganya tuli ditelan usia. Namun menurut cucucnya, sewaktu Ngasiran masih bisa bercerita, ia pernah menuturkan pengalamannya saat hidup dizaman penjajahan.
 
Yang lebih unik adalah, soal etos kerja Pak Ran. Meski dalam usia yang sudah lanjut seperti itu, ia masih bisa bekerja, meskipun produkstivitasnaya sudah jauh berkurang. Ia masih bisa membuat irik atau bakul yang dibuat dari anyaman berbahan bambu. Bahan bakunya, diambilkan cucunya dari kebun yang letaknya tidak jauh dari belakang rumah.
Menurut cucunya, sebenarnya mereka ingin kakeknya tinggal diam saja di rumah. Namun, hal itu bisa memicu kesehatan Ngasiran terganggu. Bila tidak bekerja, Ngasiran akan merasa sakit. Makanya, anak cucunya rajin mengambilkan batang bambu, yang dipotong-potong dan diletakkan di rumah. Setelah itu, Ngasiran sendiri yang akan mengolahnya menjadi irik atau bakul. Hasilnya, dijual kepada warga sekitar.
 
Ngasiran kini tinggal dirumahnya sendirian, yang terletak di samping kiri rumahnya cucunya. Ia memiliki 4 orang anak, 3 perempuan dan 1 orang laki-laki. Istrinya sudah meninggal dunia sejak lama. Dirumah itu, ia mengerjakan irik dan bakul. Jumlahnya sudah banyak dan laku terjual.
 
Bila dilihat dari sudut pandang rumah tinggal yang menjadi indikator kemiskinan Kabupaten Banggai, maka secara ekonomi, Ngasiran tergolong keluarga yang kurang beruntung. Hal itu dilihat dari rumah yang ia tinggali hanya berdinding papan, berlantai tanah dan beratapkan daun nipah. Tidak ada pula barang-barang berharga di dalam rumah itu. Hanya ada satu meja makan, dan dua bangku dari kayu.(*)

 

Petugas Online

YM Petugas

Testimoni Testimoni

Tulisan Karya Tulis

Pamplet Edaran E-brosur Akper

buku tamu Buku Tamu

Link Link Situs

Hubungi Hubungi Kami

Testimoni